Tuesday, August 14, 2012

Waspada Investasi Bodong Jelang Lebaran

Aksi penipuan dengan kedok investasi kembali marak terjadi. Praktik ini menjamur menjelang lebaran, karena paket investasi yang mereka tawarkan untuk tabungan dan paket hari raya.

Kepolisian Daerah Metro Jaya mengungkapkan dalam kurun waktu satu tahun, ada lima kasus investasi dalam bentuk koperasi yang berujung pada penipuan uang nasabah dan investor. Kasus-kasus ini terungkap setelah perputaran uangnya macet. Demikian juga dengan modus penipuan lain.


"Kami khawatirkan banyak praktik koperasi berujung penipuan. Tunggu waktu saja, macetnya kapan," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, Selasa 14 Agustus 2012.


Karena itu, Rikwanto meminta Badan Pengawasan Pasar Modal (Bapepam) dan UKM yang membidangi untuk ikut serta memantau izin dan operasional koperasi-koperasi di masyarakat. Karena seringkali ditemukan izin koperasi untuk 'A' tapi praktiknya untuk 'B', 'C', dan 'D'.


Lebih lanjut, Rikwanto mengimbau masyarakat agar tidak tergiur dengan bunga maupun bonus yang besar. Padahal terbebani dengan harus mencari nasabah lainnya.


"Kadang koperasi menjanjikan keuntungan dan ada beberapa diantaranya memang yang mendapat bonus. Setelah nasabah banyak, pengurusnya lari. Lebih teliti menanamkan uang," ungkap Rikwanto.


Kasus penipuan yang terakhir menghebohkan adalah koperasi milik Al- Amanah. Setidaknya ada 13 ribu nasabah yang tertipu dan uang yang dilarikan pengurus koperasi mencapai miliaran rupiah.


Model bisnis investasi Al-Amanah dibuat dalam berbagai paket. Paket A misalnya, investor bisa menyetorkan modal sekitar Rp1-5 juta dan dalam bulan depannya, tepat di tanggal jatuh tempo mendapat keuntungan 100 persen.


Sementara paket B, nilai investasi yang ditawarkan berkisar Rp5-10 juta dengan nilai keuntungan mencapai 150 persen. Paket C yakni memiliki nilai investasi lebih dari Rp10 juta dengan nilai keuntungan 200 persen.


Polda Metro Jaya menetapkan M. Soleh Suadi, pimpinan Al-Amanah, sebagai tersangka. Dia masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) yang dikeluarkan sejak Juli lalu. Suadi merupakan pimpinan perusahaan investasi.


Polisi menilai Suadi adalah orang yang paling bertanggung jawab dalam mengelola keuangan para investor Al-Amanah. "Kami sudah sebar foto Suadi yang masuk dalam DPO," ujar Rikwanto.


Bisnis Al-Amanah, kata dia, sudah berlangsung sejak Agustus 2011 dan memiliki investor sebanyak 13.000 orang. Dari jumlah investor itu, nilai kerugian diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah.


Modal investasi yang dikirim para investor juga disebut-sebut Suadi akan diputar untuk usaha perdagangan hasil bumi dan pertambangan di Malaysia.


Korban investasi Al-Amanah tersebar di berbagai kota di Indonesia. Namun, paling banyak ada di Bandung dan Jakarta. Kasus ini sudah dilaporkan ke Polda Metro Jaya pada Selasa, 7 Agustus 2012, dan sedang ditangani Subdit Resmob Direktorat Reskrimum Polda Metro Jaya.


Selain kasus investasi Al-Amanah, ada juga kasus penipuan terhadap nasabah Koperasi Langit Biru. Diketahui, 140 ribu nasabah tergabung dalam koperasi yang berdiri sejak 2011 dengan nama PT Transindo Jaya Komara.


Setelah Badan Pengawasan Pasar Modal (Bapepam) membekukan perusahaan investasi itu, Koperasi Langit Biru mengalami kemacetan saat pencairan dana nasabah jatuh tempo.


Setelah tiga bulan tidak mendapat bonus yang dijanjikan, Sabtu, 2 Juni 2012 lalu, sekitar 2 ribu orang mendatangi kantor Koperasi Langit Biru. Mereka menuntut pengembalian dana yang sudah mereka investasikan berikut bonusnya.


Sejumlah nasabah mengamuk dan merusak barang di kantor Koperasi Langit Biru. Tidak hanya itu, massa yang marah ikut menjarah barang berharga dan sembako yang ada di koperasi itu.


Semula pembagian keuntungan koperasi itu berjalan lancar. Tapi setelah bulan keenam, bonus keuntungan tersendat dan bahkan macet total. Ini membuat warga yang telah menanamkan modalnya menjadi khawatir. Polisi memperkirakan perputaran dana di Koperasi Langit Biru itu mencapai Rp6 triliun.


Polisi pun akhirnya menangkap tersangka penggelapan sekaligus Bos Koperasi Langit Biru, Jaya Komara di Purwakarta. Jaya Komara ini sempat buron setelah kasus yang melibatkan koperasinya terungkap.


Polisi pun menjerat Jaya dengan Pasal 372 KUHP mengenai penggelapan dengan ancaman pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak Rp900 juta. Selain itu juga dikenakan pasal 378 KUHP, tentang perbuatan curang dengan ancaman pidana penjara paling lama empat tahun penjara dan akan dikembangkan dengan undang-undang perbankan.


Polri pun kembali mengingatkan masyarakat terhadap bahaya penipuan yang masih merajalela. Agar tak menjadi korban, Polri mengimbau semua pihak untuk meningkatkan kewaspadaan dari tindakan orang-orang yang tidak bertanggung jawab tersebut.


Ada sejumlah modus yang dilakukan para pelaku. "Kami melihat ada fenomena penawaran-penawaran untuk investitasi yang dilakukan kelompok orang menggunakan badan hukum dan sebagainya," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Kombes Pol Boy Rafli Amar di Mabes Polri.


Boy mengemukakan tawaran itu terutama investasi yang mewajibkan nasabahnya menanamkan sejumlah uang dengan iming-iming keuntungan dalam jumlah besar di kemudian hari. Misalnya mereka yang menjanjikan penambahan sebesar 10 persen, 19 persen dari modal semula.


"Ini patut diduga ada unsur penipuan, yang mana tidak didukung adanya fakta usaha yang riil, yang dilakukan kelompok usaha tersebut. Contoh paling gampang Koperasi Langit Biru (KLB). Kita lihat ada beberapa hal terjadi setelah munculnya KLB," ujarnya.


Boy berharap agar masyarakat terhadap tawaran-tawaran seperti itu tidak cepat percaya. Berdasar pengamatan kepolisian, terdapat penawaran sejumlah kegiatan usaha yang sangat dipertanyakan. Terlebih mereka yang fokus kerjanya adalah menarik dana masyarakat.


"Apabila tidak dilakukan badan hukum dengan izin yang sah, terutama Gubernur BI, tentu ini dapat dikategorikan melanggar hukum. Jadi pengawasan Satgas Bapepam," terangnya.


Selain dalam bentuk usaha, penawaran dari SMS, melalui situs online, SMS penawaran hadiah atau iming-iming mendapatkan faslititas dari kegiatan yang ditawarkan. "Kami harap masyarakat berpikir cermat sebelum menerima tawaran. Ini penting dalam upaya mencegah kerugian, termasuk melalui media cyber di mana ada penawaran perlu kita klarifikasi lebih lanjut. Kita ingatkan karena ini memang ada," lanjutnya.


Tips Investasi Online

Bisnis investasi online semakin marak, baik berbentuk kerja sama bisnis, emas berjangka, maupun valuta asing. Selain menjanjikan keuntungan yang besar, bisnis ini juga dianggap praktis karena dilakukan secara real time di internet.


Namun, investasi online ternyata tidak aman atau sering dijadikan modus penipuan berkedok investasi. Untuk itu, menurut pengusaha dan aktivis, Fahira Idris, sebaiknya pemerintah perlu membuat aturan hukum dalam mengawasi bisnis tersebut yang kian marak dari tahun ke tahun.


"Jadi, perlu payung hukum untuk mencegah terjadinya penipuan berkedok investasi ini," kata dia, saat dihubungi VIVAnews.com di Jakarta, Rabu 21 Desember 2011.


Dia mengakui, saat ini, investasi online marak karena siapa pun bisa membangunnya dan tidak perlu susah-susah membuat perizinan atau harus memiliki kantor terlebih dahulu. "Tentunya, bila terjadi kasus, ya agak susah dilacaknya. Sebab, tidak ada kantornya," tutur Fahira.


Fahira menyarankan, selain perlu dibentuk payung hukum, sebaiknya bagi konsumen lebih baik berbisnis yang riil karena itu lebih aman, meski tidak menjanjikan untung tinggi seperti yang ditawarkan investasi online. "Yang jelas-jelas saja kalau ingin berbisnis," ujarnya.


Dia juga mengatakan bahwa modus ini sebetulnya sudah banyak terjadi tapi jarang dilaporkan, sebab si konsumen merasa bingung harus mengadukan nasibnya ke mana. "Bahkan, si konsumen juga nggak kenal dengan si pelaku," kata Fahira.


Sementara itu, modus operandi penipuan berkedok investasi ini, menurut Fahira, biasanya terjadi tidak di awal transaksi pertama, kedua, dan ketiga. "Seringnya itu, keempat atau kelima. Jadi, si konsumen dibuat percaya dan yakin. Kalau sudah terpesona, baru ditipu," tuturnya.


Lalu bagaimana sebenarnya bisa terjadi penipuan berkedok investasi ini? Trader dan analis investasi emas Mulyadi Tjung membagi informasi mengenai hal ini.


Menurut dia, pada kasus penipuan yang dijanjikan keuntungan sebesar 300 persen. "Seperti layaknya investasi, high return berarti high risk," kata Mulyadi ketika berbincang dengan VIVAnews.


Sementara itu, untuk menghindari berbagai risiko dalam investasi termasuk investasi online, Mulyadi memberikan tips bagi para calon investor maupun investor yang sudah ada.


Pertama, pastikan mengerti risiko dan keuntungan dari investasi tersebut. Kedua, pastikan perusahaan tersebut memang legal secara badan hukum Indonesia. Ketiga, sebelum menandatangani apa pun, pastikan dibaca seluruh klausul yang ada.


Kemudian, keempat, seperti semua investasi lainnya, pastikan investor maupun calon investor mengerti cara kerja investasi tersebut. Terakhir, ingat setiap investasi ada risikonya, semakin tinggi keuntungan yang dijanjikan, tersirat risiko yang semakin tinggi.


Sementara itu trader dari Harvest International Futures Tony Mariano mengimbau agar masyarakat pintar memilih produk investasi, salah satunya dengan mengenali risiko. "Jika sudah tahu risikonya, orang akan cenderung hati-hati," kata dia saat berbincang dengan VIVAnews.


Khusus untuk emas, dia mencontohkan, ada beberapa jenis bisnis dengan berbagai risiko. Investasi dalam bentuk emas batangan risikonya akan berbeda dengan emas derivatif alias emas berjangka. Memang, keuntungan emas berjangka relatif lebih besar dibandingkan emas batangan, sehingga risikonya pun semakin besar.


Selain itu, menurut Tony, calon investor juga harus paham di mana uang itu akan ditanamkan, sehingga bisa terhindar dari penipuan. Dia mengatakan, banyak korban penipuan yang tak tahu uangnya ditaruh di mana.


SUMBER : VIVAnews

0 komentar:

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons