Monday, November 14, 2011

Luas Tanaman Padi tergerus 7,3%

JAKARTA: Luas lahan tanam padi Januari-Oktober 2011 seluas 8,59 juta hektare turun 7,3% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu 9,276 ha.

Data Kementerian Pertanian mencatat total luas lahan pertanian yang terkena banjir pada Januari-Oktober tahun ini 118.923 ha lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu 245.927 ha.


Namun, luas lahan pertanian yang kekeringan pada Januari-Oktober 2011 seluas 200.003 ha lebih luas dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu 96.103 ha.


Serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) seperti penggerek batang padi, wereng batang cokelat, tikus, blas, kresek, dan tungro periode Januari-Oktober 2011 mencapai 642.100 ha naik dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu 587.247 ha.


Serangan hama wereng batang cokelat yang paling luas mencapai 218.461 ha. Provinsi terluas yang kekeringan yaitu Jawa Barat disusul Sulawesi Selatan, Nangroe Aceh Darussalam, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.


Berdasarkan angka ramalan III/2011  Badan Pusat Statistik yang mencatat prediksi produksi pada tahun ini hanya sebanyak 65,39 juta ton gabah kering giling turun 1,08 juta ton atau 1,63% dibandingkan dengan produksi pada tahun lalu.


Produksi turun

Menurut BPS, penurunan produksi diperkirakan terjadi karena penurunan luas panen seluas 29.070 hektare atau 0,22%. Selain luas panen turun, diperkirakan juga ada penurunan produktivitas padi sebesar 0,71 kuintal per hektar atau 1,42%.

Penurunan produksi padi tahun ini sebesar 1,08 juta ton tersebut terjadi pada periode Mei-Agustus sebesar 1,14 juta ton atau 5,16% dan perkiraan subround September-Desember sebesar 1,26 juta ton atau 8,44%.


Adapun, pada subround Januari-April terjadi peningkatan sebesar 1,32 juta ton atau 4,52% dibandingkan dengan produksi pada subround yang sama pada 2010.


Menteri pertanian Suswono mengakui indeks pertanaman (IP) tahun ini hanya 1,6. Padahal, jika indeks pertanaman dapat ditingkatkan menjadi 2 yang artinya petani dapat menanam padi sedikitnya 2 kali setiap tahun, maka produksi padi dapat meningkat. (Bsi)

Sumber :  bisnis.com  

APTI:Putusan MA tak pertimbangkan aspek ekonomi

JAKARTA: Koalisi Nasional Penyelamatan Kretek kecewa atas putusan Mahkamah Konstitusi yang menolak uji materi pasal-pasal tembakau dalam UU No.36/2009 tentang Kesehatan.
 
Wisnu Brata, Ketua DPP Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), mengatakan putusan itu mencederai rasa keadilan bagi industri kretek skala kecil dan petani tembakau yang akan berdampak hilangnya tradisi membuat rokok kretek terutama Sigaret Kretek Tangan (SKT).
 
"Putusan Mahkamah Konstitusi tersebut hanya melihat dimensi kesehatan dan kedua logika formal dalam menilai koherensi pasal-pasal antitembakau dalam UU Kesehatan," ujarnya melalui siaran pers hari ini.
 
Menurutnya, alasan putusan itu belum jelas, karena aspek lain seperti ekonomi, sosial, budaya maupun historis terkait tembakau tidak sepenuhnya menjadi dasar pertimbangan.
 
Peneliti Indonesia Berdikari Salamuddin Daeng mengatakan putusan itu semakin menguatkan kecurigaan ada kepentingan tersembunyi dari modal internasional khususnya industri multinasional farmasi asing di balik seluruh kampanye filantropis yang mengatasnamakan kesehatan masyarakat secara umum.
 
"Dalil putusan MK ini sungguh tidak dapat kami pahami dasar nalar dan argumentasi. Cara pandang partikularistik yang mereduksi nalar sehat kita dengan mendudukkan tembakau sebagai objek hukum yang terpisah dan bahkan terpilah dari jutaan orang yang hidup dan dihidupi oleh tembakau."
 
Abhisam, Ketua Komunitas Kretek, mengatakan putusan MK ini menjadi pintu masuk perampasan atas sumber-sumber penghidupan yang layak bagi jutaan rakyat oleh kepentingan modal internasional. 
 
Dia menuturkan putusan MK adalah upaya pengkriminalisasian terhadap ribuan industri rokok rumahan di Indonesia yang berujung pada penguasaan pasar oleh segelintir perusahaan besar, di mana perusahaan multinasional rokok asing telah berderet antri ingin merangsak masuk ke dalam pasar tembakau lokal.
 
Menurutnya, yang dibutuhkan saat ini tidak saja sekadar mempertahankan hidup yang layak dan bermartabat, tetapi lebih dari itu suatu sikap daulat diri yang sanggup berdiri tegak mempertahankan jati diri budaya bangsa yang tercermin dalam segala produk perundang-undangan kita yang lebih mengusung dan berpihak pada kepentingan nasional daripada kepentingan asing.
 
Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian, luas lahan tembakau pada tahun ini meningkat menjadi 210.000 hektare dibandingkan dengan tahun lalu 190.000 ha. 
 
Total produksi rokok di dalam negeri pada tahun lalu mencapai 260 miliar batang dengan rincian jenis kretek mencapai 93%, sedangkan rokok putih hanya sekitar 7%.
 
Produksi tembakau di dalam negeri tahun ini sekitar 260.000 ton dengan produktivitas tanaman sekitar 1 ton per ha tembakau kering. Harga tembakau kering rata-rata sekitar Rp25.000-Rp30.000 per kg. Industri rokok mencapai 3.000 pabrikan termasuk industri rumah tangga, sedangkan industri rokok skala besar hanya 10 pabrikan. (sut)
 
Sumber :   bisnis.com

Produksi minyak capai 930.000 barel per hari

AKARTA : Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) memperkirakan rata-rata lifting minyak bumi hingga akhir tahun ini  914.000—930.000 barel per hari.
 
"Ya mudah-mudahan bisa 914.000—930.000 barel, kita lihat ya," ujar Kepala BP Migas R. Priyono ketika ditemui di sela-sela acara MoU KPK dan BP Migas dalam upaya pemberantasan tindak pidana korupsi hari ini.
 
Angka tersebut lebih rendah dari target lifting minyak bumi dalam APBN-P 2011 sebesar 945.000 barel per hari. Angka itu pun sebenarnya sudah turun dari target semula 970.000 barel per hari dalam APBN 2011. Adapun hingga 20 Juli 2011, BP Migas mencatat rata-rata lifting minyak
bumi sekitar 906.000 barel per hari.
 
Priyono mengatakan rendahnya perkiraan rata-rata lifting minyak tahun ini terutama disebabkan kehilangan produksi dari CNOOC. Pada akhir September lalu, lapangan-lapangan minyak CNOOC SES Ltd di Laut Jawa sempat terhenti akibat terbakarnya ruang mesin kapal penampung minyak
Lentera Bangsa (floating storage and offloading/FSO) milik PT Trada Maritime Tbk.
 
Priyono mengatakan akibat kejadian tersebut, CNOOC terpaksa menghentikan produksi minyak sebesar 15.000 barel per hari dari sumur–sumur minyak di Blok South East Sumatera yaitu lapangan Widuri, lapangan Intan, lapangan Aida dan lapangan Indri sejak kebakaran FSO Lentera Bangsa. Namun saat ini sudah ada kapal pengganti dan CNOOC sudah kembali berproduksi sebesar 8.000 barel per hari.
 
"Yang signifikan ini yang terjadi di CNOOC, kita kehilangan 15.000 barel gara-gara terbakarnya Lentera Bangsa itu. Saat ini sudah recover tapi baru 8.000 barel, butuh dua kali lipat untuk kembali normal," jelas Priyono. (sut)
Sumber : bisnis.com

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons