Wednesday, November 9, 2011

GWP berharap Grup CP desak Bank Agris bayar ganti rugi Rp20 miliar

JAKARTA: PT Geria Wijaya Prestige (GWP) berharap Grup Charoen Pokphand Indonesia mendesak PT Bank Agris mematuhi putusan berkekuatan hukum tetap (incrakht) dengan membayar ganti rugi tanggung renteng Rp20 miliar kepada GWP.

Zakaria Ginting, kuasa hukum GWP, menegaskan Bank Agris adalah entitas bisnis yang sangat terkait dengan Charoen Pokphand Indonesia. Oleh karena itu, pihaknya berharap kelompok usaha asal Thailand tersebut bisa mendesak bank tersebut patuh dengan ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia.


“Kami berharap Charoen Pokphand mendesak Bank Agris patuh dengan putusan hukum yang sudah final,” katanya kepada pers, di Jakarta, Rabu 9 November.


Zakaria memaparkan GWP memenangkan perkara melawan sindikasi krediturnya setelah Mahkamah Agung (MA) dalam putusan peninjauan kembali (PK) mengabulkan gugatan GWP, yang tercatat dalam perkara No. 3140 K/ Pdt/2001 jo. No. 292 PK/Pdt/2003 jo. No. 880/Pdt/1999/PT.DKI. jo. No. 490/Pdt.G/1998/ PN.Jkt.Pst.


Selain Bank Agris (dahulu bernama Bank Finconesia), mereka yang turut diwajibkan membayar ganti rugi kepada GWP adalah PT Bank Commonwealth Tbk (d/h Bank Artha Niaga Kencana) dan PT Bank Windu Kentjana Internasional Tbk (d/h Bank Multicor).


Bank Commonwealth diketahui telah menyanggupi memenuhi kewajiban dengan melakukan konsinyasi dana ke PN Jakarta Pusat. Hal itu tertera dalam laporan keuangan Bank Commonwealth 2010.


Adapun Bank Windu Kentjana berusaha melakukan penyelesaian secara musyawarah dengan GWP. Hal tersebut tertulis dalam laporan keuangan Bank Windu Kentjana pada 2010.


Menurut laporan keuangan Bank Agris 2010,  saham Bank Agris hampir 100%  dimiliki PT Dian Intan Perkasa  yang dikuasai Benjamin Jiaravanon.


Benjamin adalah putra Sumeth Jiaravanon, pendiri dan pemilik Grup Central Pertiwi sayap usaha Charoen Pokphand,  raksasa agroindustri asal Thailand.


Dalam suratnya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) tertanggal 25 Oktober 2011, Sekretaris Perusahan  PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk  Hadijanto Kartika mengakui bahwa Bank Agris merupakan pihak terafilisasi dari Charoen Pokphand, di mana sifat hubungan afilisasi itu adalah kesamaan pemegang saham pengendali.


Zakaria Ginting mengatakan sangat disayangkan apabila reputasi grup besar seperti Charoen Pokphand tercoreng namanya hanya karena Bank Agris sebagai pihak terafiliasi tidak patuh terhadap ketentuan hukum.(api)

Sumber :  www.bisnis.com

Kejati NTB berupaya Mengungkap Pejabat Struktural Yang terlibat dalam Kasus DAK Dikpora 2009

Mataram; Kejaksaan Tinggi (KEJATI) NTB terus mengevalusai persidangan Perkara tindak pidana Korupsi (TIPIKOR) Dana Alokasi Khusus (DAK) Dikpora Kota Mataram tahun 2009. Dimana Upaya ini terus dilakukan guna mengungkap pihak-pihak lain yang diduga terlibat dalam kasus ini yang sampai saat ini hanya mampu nenjerat Tjatur Totok Hardianto sebagai terdakwa. "kita terus mengevaluasi persidangan DAK itu, termasuk  akan mendalami keterlibatan-keterlibatan pejabat Struktualnya. " Kata Kasi Penkum dan Hummas Kejati NTB kepada wartawan Radar Lombok selasa kemarin (8/11).
Dikatakan Sugiyanta, selain tetap mengevaluasi persidangan terdakwa Totok, Kejati masi berpegang pada perkataan Kejati Sebelumnya Didik Darmanto yang menegaskan bahwa Kejati akan membidik pejabat struktural Dikpora Kota Mataram.
Hingga kini, Kejati baru berhasil mendudukkan Totok yang hanya seorang staf di Dikpora sebagai terdakwa dan kini tengah menjalani proses persidangan di pengadilan Tipikor Mataram. sementara tidak ada satupun pejabat pengambil kebijakan yang diseret dijadikan tersangka.
untuk itu pihak KEJATI akan terus berupaya keras menjawab keinginan Publik, siapa yang sebenarnya memiliki peran sentral dalam perkara tersebut.

Rep; Radar Lombok


Cerita Penderitaan Seorang Tenaga Kerja Wanita di Negeri Arab Saudi



Berharap Mendapatkan penghasilan yang besar, mala penderiataan yang di dapat.
Inilah yang dirasakan oleh tenaga kerja wanita (TKW) asal Lombok yang mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi dari  majikanya di Arab Saudi.


Berdasarkan liputan wartawan Radar Lombok,ibu Eti Nova Afriana atau yang sering dipanggil Eti, pada awalnya tidak diizinkan suaminya berangkat mencari nafkah keluar negeri. Akan tetapi Eti bersikeras ingin berangkat setelah tergoda bujuk rayu seponsor H Murdin yang tidak lain merupakan Paman dari ibu Eti sendiri yang menjadi petugas lapangan PT Avindo Mas Buana yang beralamat di jalan Duren Sawit Jakarta.
Disebabkan oleh kondisi ekonomi serta bujukan dan tawaran yang menjanjikan, akhirnya Eti berangkat dengan harapan dapat mengumpulkan Real. Namun sangat di sayangkan, harapan dapat mengumpulkan Real hanya tinggal kenangan. Sebab bukan Gaji yang menjanjikan, melainkan Perlakuan-perlakuan yang tidak manusiawi yang diterima oleh  Eti dari Majikannya.
Setiap kali ibu eti mau meminta gajinya, majikannya selalu bikin ulah yang tidak sewajarnya. Diantaranya adalah menuduh Eti sebagai pencuri,kemudian kedua kalinya Eti dituduh mengambil Handphone (HP) majikannya. Lalu yang terakhir dituduh sebagai perempuan murahan yang sering memasukkan laki-laki lain dikamarnya.
Pada itulah kemudian HP milik Eti disita agar tidak lagi bisa berhubungan dengan lelaki manapun seperti apa yangn dituduh oleh majikan kepadanya. Eti terus berupaya meminta HP tersebut agar bisa menghubungi suaminya di tanah air. Namun tidak juga digubris oleh majikannya.
Secara kebetulan, pada pagi itu Eti tertidur pulas dan terlambat bangun pagi. Lalu kemudian dengan kasar majikannya membuka pintu dan menyiramnya dengan air dingin.
“saat terakhir ketika istri saya dituduh sebagai pelacur itullah kemudian ia disekap selama tiga hari tiga malam tanpa makan dan minum” cerita Suami Eti, Ahmad Faiz Kepada Wartawan Radar Lombok.
Karena tidak tahan dengan penderitaan yang diterimanya, Eti kemudian mencari seutas selang yang digunakannya untuk keluar dari kamar tersebut. Karena rumah majikannya berlantai tiga maka Etipun mengikat selang tersebut pada besi yang dilihatnya cukup kuat untuk membantunya turun. Sayangnya, Eti yang belum sampai ke lantai satu kemudian terjatuh dan mengalami patah kaki.
Melihat kejadian itu, lalu majikkannya menyuruh sopirnya membawa Eti ke Rumah Sakit Ahmed Abanamy, AL-Hamra, Riyadh. Selama lima hari berada di rumah sakit, Eti merasa kesepian karena tidak ada yang menemanya. Sebab dalam waktu lima hari itu, majikannya hanya menjenguknya sekali sambil menyalahkan tindakan Eti yang dinilainya nekad keluar dari kamar itu dengan menggunakan selang.
Derita Eti diperantauan terbongkar saat keluarga Eti yang ada di Saudi, Sri Hartum. Sri menginformasikan keadaan Eti kepada orangtuanya di Desa Perina Lombok Tengah. Awalnya, orangntua Eti (Sujudin) tidak berani memberitahukan kejadian ini kepada Ahmad Faiz, kerana takut menantunya marah. Sebab keberangkatan Eti juga atas dorongan Mertuanya. “saya baru mengetahuinya setelah dikabarkannya dari Saudi.”katanya.
Setelah dapat menghubungi istrinya, keluarganya pun mengirimkan Photo-photo Eti yang sedang berada di rumah sakit. “kita berharap Eti bisa dipulangkan” kata Ahmad Faiz. Oleh karena itu, ia langsung melaporkan kejadian tesebut ke BP3TKI untuk segera ditindak lanjuti. Pihak BP3TKI pun menjanjikan akan membantu atas persoalan tersebut.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons