Monday, February 7, 2011

Anda bisa mendapatkan penghasilan tambahan dengan modal sedikit dan tidak membutuhkan keahlian dlm mengelola web. hanya dengan keberanian dan sedikit usaha; kalau berminat silakan Klik; karirmakmur lkmd net

Karyawati Penerbangan Dilecehkan di Busway

Korban menyadari rok yang dikenakannya didapati cairan (sperma) yang diduga milik pelaku.

Antique, Zaky Al-Yamani

Ilustrasi pelecehan seks  
VIVAnews - Kasus pelecehan seksual kembali terjadi di dalam bus TransJakarta. Kali ini, peristiwa nahas tersebut menimpa seorang karyawati sebuah maskapai penerbangan, E (19 tahun), saat menumpang bus Transjakarta koridor VIII jurusan Lebak Bulus-Harmoni.
Seperti biasa, dalam menjalankan aksinya, pelaku memanfaatkan kepadatan penumpang yang selalu memenuhi bus Transjakarta setiap jam pulang-pergi kerja.

Peristiwa memalukan ini berawal sekitar pukul 18.00 WIB, Senin 7 Februari 2011, saat korban menumpang bus Transjakarta koridor VIII dari shelter Pondok Indah hendak menuju Harmoni, Jakarta Pusat. Kondisi Transjakarta yang dipadati penumpang membuat korban terpaksa berdiri.

Di tengah perjalanan, pelaku yang diketahui bernama Ed (43 tahun) kemudian merapat ke tubuh belakang korban. Pelaku yang diduga memiliki kelainan seksual ini pun melakukan tindak asusila dengan menggesekkan tubuhnya ke badan korban.
Kondisi bus yang padat penumpang membuat para penumpang lain tidak ada yang menaruh curiga atas tindakan pelaku.

Ketika bus Transjakarta melintas di shelter Sasak, Jalan Panjang, Kebon Jeruk, dan kepadatan penumpang sudah mulai berkurang, penumpang yang duduk di dekat korban pun melihat aksi bejat pelaku.

Pelaku yang sadar aksinya mulai diketahui, segera hendak keluar turun di shelter Sasak. Namun, para penumpang dengan sigap segera meringkus pelaku. Kemudian, pelaku dibawa petugas keamanan Transjakarta ke Polres Jakarta Barat.

Di Mapolres Jakarta Barat, pelaku mengaku telah dengan sengaja melakukan tindakan asusila tersebut.
Sementara itu, korban, E, awalnya mengaku tidak curiga dengan aksi pelaku, tetapi diberitahu penumpang lain yang melihat kejadian tersebut.

Selain itu, usai pelaku diringkus, korban menyadari rok yang dikenakannya didapati cairan (sperma) yang diduga milik pelaku. ''Awalnya saya tidak curiga, tetapi saya merasa ada sesuatu yang dingin di rok saya. Nggak lama kemudian, penumpang lain memberitahu bahwa saya menjadi korban pelecehan oleh pelaku," ujarnya. (art)
• VIVAnews

Penembak Transjakarta Diancam Bui 16 Tahun

                                                                                             Bus TransJakarta (VIVAnews/Maryadi)
VIVAnews - Penembak bus Transjakarta di Pluit sekaligus pemilik pabrik narkoba bernama Nico, 28 tahun, diancam hukuman 16 tahun penjara. Polisi menjerat bos diskotik Raja Mas dan pemilik pabrik narkoba ini secara berlapis.

Menurut Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Utara, Ajun Komisaris Besar Irwan Anwar, Nico antara lain dikenakan pasal pemilikan amunisi secara tidak sah di UU Darurat, pasal 406 KUHP tentang perusakan, dan pasal 335 KUHP tentang merampas kemerdekaan orang lain karena terbukti menyekap dua anak buahnya. Selain itu, ia juga masih dibidik dengan kasus judi.

"Jadi, ancaman maksimalnya 16 tahun penjara," ujar Irwan Anwar, Senin, 7 Februari 2011. Namun, itu belum termasuk ancaman hukuman dari kasus narkoba yang juga dituduhkan kepadanya. "Berkas perkaranya ada tiga, mulai dari pidana umum, narkotika, dan judi."

Irwan menegaskan ia masih menahan Nico dan tidak akan menangguhkan penahanannya. "Tidak dimungkinkan, mengingat pasal yang dikenakan tentang kepemilikan narkoba serta senjata api," katanya.

Menurut Irwan, penyidik sedang menyelesaikan proses pemeriksaan tersangka. Dalam waktu dekat, berkas perkara akan dilimpahkan ke kejaksaan. Saat ini, polisi masih menunggu hasil uji laboratorium forensik untuk membuktikan amunisi dan senjata api Nico memang asli. "Meskipun secara kasat mata kami tahu itu memang peluru dan senjata asli, tapi kami harus menguatkannya dengan keterangan dari Puslabfor," kata dia.

Penangkapan Nico berawal ketika ia menembak bus Transjakarta di halte Mega Mal Pluit, Jakarta Utara. Polisi kemudian menangkap Nico di salah satu rumahnya di Komplek Mediterania, Jalan Kenari Golf Raya Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara.
Di rumah itu, petugas mendapati berbagai senjata api dan amunisi, antara lain: satu revolver rakitan, satu magasin, 13 butir peluru, dua butir peluru kaliber 9 mm, satu buah Pen Gun, tiga laras Pen Gun, 35 buah peluru gas, delapan butir peluru jenis CIS, 11 butir peluru CIS kaliber 22, 14 butir peluru karet, dan dua butir peluru tajam 9 mm, ditambah 23 bilah pedang.

Polisi juga menemukan uang tunai Rp101 juta hasil penjualan narkoba, shabu-shabu 965,2 gram, 2.737 butir happy five, 11.693 butir ekstasi, serta bahan-bahan pembuatan narkoba.

Tidak hanya itu, dia juga kedapatan menyekap dan menganiaya dua karyawannya lantaran menggelapkan uang setoran penjualan narkoba. Belum cukup, polisi juga mendapati Nico kerap bermain judi bola online dan togel di Jalan Sunter Indah VIII Blok HG 2 No. 5, Kelurahan Sunter Jaya, Tanjung Priok Jakarta Utara. (kd)
• VIVAnews

Warga Ahmadiyah di Mataram Ketakutan

Sudah tujuh kali mereka diserang. Satu tewas, tapi tak ada satupun pelakunya diadili.

VIVAnews - Meski terpaut jarak yang amat jauh, serangan brutal terhadap warga Ahmadiyah di Pandeglang, Banten, membuat para jemaah aliran ini di Nusa Tenggara Barat (NTB) kini ketakutan.

Sebab, menurut mubalig Ahmadiyah Wilayah NTB dan NTT, Nasiruddin Ahmadi, peristiwa kekerasan serupa kerap mereka alami juga. "Kami yang tinggal di Transito masih khawatir dan gelisah karena sudah tujuh kali kami mengalami hal serupa," tutur dia di Mataram, Senin, 7 Februari 2011.

Sejauh ini, Nasiruddin merasa mereka tak mendapat keadilan. Sebab, tak ada satupun pelaku kekerasan yang ditangkap dan diadili.

Salah satu kasus penyerangan yang masih lekat dalam ingatannya adalah peristiwa mengerikan 10 tahun lalu. Pada 2001 silam, seorang warga Ahmadiyah, Papuk Hasan (60) tewas akibat dianiaya massa. "Kami pesimistis, Pak Hasan tewas tapi pembunuhnya masih belum diadili," kata dia.

Nasiruddin juga tak yakin dengan janji aparat yang akan menjaga keamanan mereka. Jemaah Ahmadiyah di NTB hanya bisa berharap, serangan berdarah seperti di Pandeglang tak menimpa mereka.

Saat ini, sebanyak 138 warga Ahmadiyah masih tinggal di Asrama Transito Mataram. Mereka harus eksodus dari kampung mereka di Ketapang, Lingsar, Lombok Barat, yang diporakporandakan massa pada akhir Desember 2010 lalu.

Di lokasi pengungsian, warga berusaha menjalani hidup senormal mungkin. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, sebagian dari mereka berjualan di pasar. Ada juga yang menjadi tukang ojek.

Penyerangan terhadap komunitas Ahmadiyah bukanlah hal baru. Namun, tragedi berdarah di Pandeglang pada hari Minggu kemarin sungguh menyentak khalayak luas. Ratusan orang menyerang sebuah rumah yang dihuni jemaah Ahmadiyah. Tanpa ampun, massa yang beringas, menelanjangi, membacok, dan menggantung tiga orang hingga tewas. (Laporan: Edy Gustan, Mataram | kd)
• VIVAnews

Komisi HAM ASEAN Kecam Penyerangan Ahmadiyah

"Saya mengingatkan bahwa Indonesia telah dinilai buruk Komisaris Tinggi HAM PBB."
VIVAnews - Komisi HAM Antar-Pemerintah ASEAN (AICHR) untuk perwakilan Indonesia mengecam keras kasus penyerangan jemaah Ahmadiyah di Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, Pandeglang, Banten.

"Saya mengecam keras penyerangan dan mengharapkan kebijakan serta tindakan konkret pemerintah," kata Rafendi Djamin, wakil Republik Indonesia untuk AICHR yang saat ini juga menjabat sebagai ketua AICHR dalam siaran pers yang diterima VIVAnews.com di Jakarta, Senin 7 Februari 2011.

Rafendi juga mengecam keras penyerangan dan kekerasan yang dilakukan kelompok yang mengatasnamakan agama terhadap anggota jemaah Ahmadiyah. Selain itu, ia turut prihatin atas korban dan keluarga korban, serta mendesak pemerintah yang berwenang untuk memastikan bahwa kejadian ini tidak akan terulang lagi.
Dia berharap para pelaku segera diadili dan korban mendapat keadilan serta pemulihan.

"Sebagai negara yang menjunjung tinggi penegakan hukum dan hak asasi setiap warga negara, kekerasan yang dilakukan kelompok tertentu yang mengatasnamakan agama merupakan tindakan yang bertentangan dengan hukum dan moral yang selama ini dianut oleh bangsa Indonesia serta mencederai citra Indonesia di mata internasional," ujarnya.

Selain itu, Rafendi menambahkan, UUD 1945 Republik Indonesia yang menjadi norma dasar hubungan antarindividu jelas-jelas mengakui hak setiap orang untuk memeluk agama dan berkeyakinan, sehingga tindakan kekerasan yang dilakukan sekelompok masyarakat tersebut merupakan upaya yang bertentangan dengan konstitusi dan tata hukum di Indonesia.

"Saya menyambut baik sikap dan tindakan Komnas HAM untuk melakukan dan menggunakan kewenangannya sesuai dengan mandat dan tugasnya," tuturnya. "Termasuk penilaiannya atas fenomena kekerasan ini sebagai kejahatan berat HAM."
Untuk itu, dia juga meminta kepolisian maupun pihak-pihak terkait guna mendukung langkah hukum Komnas HAM tersebut.

Dia juga mendukung pernyataan masyarakat sipil Indonesia yang mendesak pemerintah mengevalusi ulang SKB, agar sesuai dengan prinsip HAM yang diatur dalam konstitusi maupun berbagai instrumen HAM internasional, baik yang telah diadopsi Indonesia maupun yang berlaku secara universal. Rafendi juga mendukung desakan untuk segera mengusut secara menyeluruh dan berkeadilan.

"Saya berharap kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar memastikan proses hukum berjalan dengan baik sesuai dengan prinsip keadilan dan pemulihan korban. Dan berharap dapat merespons tuntutan masyarakat sipil dengan segera," kata dia.

Kendati demikian, Rafendi kurang sependapat dengan evaluasi SKB yang akan dilakukan menteri agama.
Menurut dia, lebih baik jika evalusi terhadap pelaksanaan SKB tersebut dapat dilakukan tim independen yang berisi individu yang kredibel, sehingga dapat objektif dan menghasilkan rekomendasi yang komprehensif serta harapan terhadap jaminan kebebasan beragama dan berkeyakinan yang dijamin oleh konstitusi dan prinsip HAM.

Selanjutnya, ia mendesak agar kepolisian segera melakukan tindakan hukum untuk mengusut tuntas penyerangan tersebut dan berharap tidak berhenti pada pelaku lapangan saja. Karena, tindakan terstruktur ini tidak luput dari aktor intelektual di belakangnya.
Tindakan serius yang dilakukan kepolisian terhadap kasus penyerangan ini, dia melanjutkan, akan menjadi gambaran keseriusan sikap pemerintah Indonesia untuk melaksanakan konstitusi dalam menjamin kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia.

"Saya mengingatkan bahwa Indonesia telah dinilai buruk Komisaris Tinggi HAM PBB, Navy Pillay terkait kebebasan beragama dan berkeyakinan, dalam statement resmi yang dikeluarkan pada 7 Februari 201," ujarnya.
Penilaian ini, menurut dia, terkait kasus Ahmadiyah dan penyerangan Gereja. "Saya berharap, pemerintah dengan sungguh-sungguh menuntaskan kasus Cikeusik dan mengambil langkah-langkah konkret agar jaminan kebebasan beragama dan berkeyakinan dapat segera pulih," ujarnya.
Kebijakan konkret itu, dia menambahkan, termasuk mencabut SKB yang tidak sesuai dengan konstitusi dan prinsip HAM secara universal. (art)
• VIVAnews

Detik-Detik Penyerangan Jamaah Ahmadiyah

Video amatir yang memperlihatkan detik-detik penyerangan massa terhadap Jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten, Minggu, 6 Februari 2011. yang di publikasikan oleh VIVAnews
 lebih lanjut silakan klik : Download klau tidak Klik : video hasil publikasi VIVAnews




Komnas: Kasus Cikeusik Pelanggaran HAM Berat

Tindakan tegas harus diambil pemerintah dalam pelanggaran HAM ini.

Senin, 7 Februari 2011, 15:23 WIB
Elin Yunita Kristanti, Aries Setiawan

Warga Ahmadiyah luka parah setelah diserang di Cikeusik, Pandeglang (Antara Foto)
BERITA TERKAIT
VIVAnews - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia dan Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan mengutuk keras tindak kekerasan yang dilakukan ratusan orang yang menyerang warga Ahmadiyah di Pandeglang.

Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim menyatakan, aksi kekerasan yang menewaskan tiga warga Ahmadiyah itu dinilai sebagai bentuk pelanggaran HAM berat.

"Apa yang terjadi adalah terlanggarnya hak atas hidup, bebas dari penyiksaan, rasa takut dan rasa aman," ujar Ifdhal dalam keterangan pers bersama di kantor Komnas HAM,  Jakarta, Senin 7 Februari 2011.

Sebagai warga negara Indonesia, warga Ahmadiyah juga memiliki hak-hak yang sama dengan warga negara lainnya. Dan, kata Ifdhal, hak itu sepenuhnya  tanggung jawab negara. Tindakan tegas harus diambil pemerintah dalam pelanggaran HAM ini. "Rasa prihatin Presiden tidak cukup," imbuhnya.

Ketua Komnas Perempuan Yunianty Chuzaifah menegaskan bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selaku kepala negara harus segera mengambil langkah politik untuk menghentikan politisasi identitas dan kekerasan atas nama agama yang telah berkembang sejak sepuluh tahun terakhir.

"Membiarkan ini berlangsung, akan mengantarkan bangsa Indonesia ke depan pintu gerbang kehancurannya sebagai negara yang bersatu, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan menghormati Kebhinekaan," katanya.

Oleh karena itu, atas tindak kekerasan yang terjadi, kedua komisi hak asasi itu meminta agar Presiden SBY segera memerintahkan seluruh aparatnya untuk menjamin keamanan dan ketenteraman warga negara, khususnya warga minoritas.

"Komnas HAM juga mendesak agar kementerian Agama  menjamin kebebasan jamaah Ahmadiyah untuk menjalankan ibadahnya dan tidak mengintervensi," katanya. Polri juga didesak untuk sungguh-sungguh mengusut tuntas kasus tersebut dan berani terhadap pelaku kekerasan.

Aksi kekerasan terjadi kemarin sekitar pukul 10.00 WIB. Ratusan orang tiba-tiba menyerang kediaman Ustad Ahmadiyah, Suparman di Desa Umbulan, Cikeusik, Pandeglang, Banten.

Akibat serangan tersebut, Mabes Polri mencatat, tiga warga Ahmadiyah tewas dan lima lainnya luka berat dan satu orang luka ringan. Akibat penyerangan tersebut, diduga kerugian materi mencapai ratusan juta rupiah.   (umi)
• VIVAnews

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons