Friday, January 7, 2011

Basic principles of prison system (Prinsip-prinsip Pokok Sistem Kepenjaraan)


Meskipun telah diadakan perbaikan di sana-sini terhadap sistem kepenjaraan, namun tetap dirasakan sebagai sistem yang kurang ampuh sebagai alat ata sarana usaha pengurangan kejahatan, bahkan dalam kenyataannya kejahatan baik secara kwalitas maupun kwantitas tetap meningkat. Hal ini disebabkan karena sistem kepenjaraan yang merupakan sistem perlakuan terhadap narapidana dan anak didik mengutamakan pelaksanaan hukuman dari pada membimbing dan membina narapidana dan anak didik.
Hal ini dapat dimaklumi karena di dalam sistem kepenjaraan mengandung prinsip bahwa para narapidana adalah merupakan obyek semata-mata, di samping tujuan pemerintah pada waktu itu (Pemerintah Kolonial) pidana yang dijatuhkan terhadap orang-orang hukuman merupakan tindakan balas dendam dari Negara, sehingga di dalam pelaksanaan hukumannya di penjara masalah hak asasi sama sekali tidak diindahkan. Di samping itu politik kriminal yang diterapkan oleh negara memang menghendaki kejeraan dari pada pelanggar hukumnya melalui penyiksaan-penyiksaan yang dilakukan oleh petugas penjara dengan maksdu agar mereka menjadi jera.
Sistem kepenjaraan menghendaki agar para narapidana menyadari bahwa perbuatan yang pernah dilakukan itu adalah salah dan bertentangan dengan hukum yang berlaku serta dilarang oleh ajaran agama yang dianutnya. Dan apa bila mereka sudah mau menyadari akan perbuatannya yang demikian itu maka mereka akan merasa tobat. Faktor kesadaran diri yang betul-betul timbul dari dirinya sendiri tanpa adanya tekanan dari pihak lain inilah yang menjadi tujuan utama bahwa seorang narapidana tidak lagi melakukan dan mengulangi perbuatan jahatnya. Jadi secara konsepsional sistem kepenjaraan bertentangan dengan tujuan yang dianutnya, yakni disatu pihak bertujuan untuk membuat jera para narapidana dengan cara perlakuan yang tidak manusiawi, sedangkan dilain pihak tidak dapat memenuhi tujuannya dengan cara perlakuan seperti itu.
Namun dengan bentuk perlakukan yang diterapkan dengan cara yang tidak manusiawi itulah yang justru menyebabkan para narapidana tidak merasa tobat, malah sebaliknya dalam diri mereka akan timbul niat balas dendam baik terhadap para petugas penjara maupun terhadap masyarakat yang telah memberikan cap sebagai sampah masyarakat. Dan apabila nanti mereka betul-betul telah kembali ke dalam masyarakat maka niat balas dendam tadi tidak mestahil untuk diwujudkan dengan perbuatan jahatnya.
Di samping hal tersebut di atas, kegagalan dari sistem Kepenjaraan yang menganut prinsip-prinsip “penjeraan” masih ada lagi faktor lain yang ikut terlibat di dalamnya, yaitu:
1.        Sistem kepenjaraan diterapkan tanpa disertai dengan proses-proses kepenjaraan (tidak adanya pertahapan perlakuan terhadap narapidana yang sudah benar-benar menunjukkan rasa tobatnya) walaupun pada saat itu sudah dikenal adanya lembaga pelepasan bersyarat, namun cara pemberiannya dilakukan dengan tidak konsisten.
2.        Sistem perlakuan yang diterapkan sifatnya kurang mendidik para narapidana, tapi hanya untuk mengisi waktu belaka.
3.        Sikap appriori dab projudice masyarakat terhadap narapidana lebih menambah kegagalan dari sistem Kepenjaraan dengan memberikan cap bahwa penjara itu adalah “Sekolah Tinggi Kejahatan”.
4.        Dalam penerapan Sistem Kepenjaraan tidak memperhitungkan atau tidak mengikut sertakan partisipasi masyarakat dalam sistem perlakuannya (terlalu bersifat individual).
5.        Re-educatie dan resosialisasi sebagai jiwa dari Sistem Kepenjaraan di dalam penerapannya justru sama sekali tidak mencerminkan jiwa dari Sistem Kepenjaraan itu sendiri.
Dengan demikian terlihatlah bahwa sistem kepenjaraan yang merupakan produk kolonial sudah tidak sesuai untuk diterapkan jika dihubungkan dengan situasi dan kondisi negara Indonesia dewasa ini yang sudah merdeka dari penjajahan. Di samping itu sistem kepenjaraan dirasakan lebih mengutamakan pelaksanaan pencabutan kebebasan narapidana dan ketertiban dalam lembaga dari pada membina narapidana menjadi warga masyarakat yang baik.

0 komentar:

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons