Friday, January 14, 2011

Pengertian Anak

Dalam setiap peraturan perundang-undangan yang berkaitan tentang anak memberikan pengertian dan batasan yang berbeda tengang anak. Hal ini dapat dipahami karena mengingat dari setiap peraturan perundang-undangan tersebut memiliki sudut pandang yang berbeda tentang anak tergandung dari kepentingan dari peraturan tersebut terhadap anak dan umur kedewasaan.
Dalam pasal 1 ayat (2) Undang-undang No. 4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak memberikan pengertian anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun dan belum pernah kawin. Hal ini dijelaskan bahwa batas umur 21 tahun, karena berdasarkan pertimbangan kepentingan usaha kesejahteraan sosial, tahap kematangan sosial, kematangan pribadi dan kematangan mental seorang anak dicapai pada umur tersebut. Batas umur 21 tahun tidak mengurangi ketentuan batas dalam peraturan perundang-undangan lainnya, dan tidak pula mengurangi kemungkinan anak melakukan perbuatan sejauh ia mempunyai kemampuan untuk itu berdasarkan hukum yang berlaku.
Menurut Mulyana W. Kusuma, yang dimaksud dengan anak adalah:[1]
“Mereka yang belum dewasa dan menjadi dewasa karena peraturan tertentu (mental, fisik masih belum dewasa) dan anak di sini meliputi anak sebagai pelaku, korban dan pengamat atau saksi. Dalam hal ini berarti mereka harus dibina sediri mungkin dalam rangka pencegahan menjadi korban dan menimbulkan korban.
Berdasarkan beberapa pengertian tentang anak yang telah disebutkan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kalau ditinjau dari segi usia kronologis menurut hukum, maka seseorang yang dikategorikan sebagai anak adalah berbeda-beda tergantung tempat, waktu dan keperluannya. Dalam hal ini batas umur anak adalah relatif tergantung pada kepentingannya.
Yang dimaksud dengan anak dalam pasal 1 ayat (1) Undang-undang No. 3 tahun 1997 tentang pengadilan anak adalah:
“orang yang dalam perkara Anak Nakal telah mencapai umur 8 tahun (delapan) tahun tetapi belum mencapai 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah kawin”.
Dalam ayat (2) Undang-undang ini juga memberikan definisi tentang anak nakal, yaitu:
“Anak nakal adalah:
a.       Anak yang melakukan tindak pidana; atau
b.      Anak yang melakukan perbuatan yang dinyatakan terlarang bagi anak, baik menurut peraturan perundang-undangan maupun menurut peraturan hukum lain yang hidup dan berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan”.
Dalam Undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dalam pasal 1 ayat (1) juga memberikan definisi tentang anak, yaitu:
“anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.”
Dalam KUHP pengertian anak tidak dicantumkan, tetapi batasan anak (orang belum dewasa) dalam pasal 45 KUHP adalah orang yang umurnya belum 16 (enam belas) tahun.
Walaupun Undang-undang Pengadilan Anak tidak memberikan penjelasan lebih lanjut, akan tetapi dapat dipahami bahwa anak yang melakukan tindak pidana, perbuatannya tidak terbatas pada perbuatan-perbuatan yang melanggar hukum saja, melainkan juga melanggar peraturan-peraturan di luar KUHP juga.


[1] Mulyana W. Kusuma, Hukum dan Hk-hak Anak, CV Rajawali, Jakarta, Disunting Dari Sebagian Makalah Perlindungan Hak-hak Anak, 1986.  hal. 51

0 komentar:

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons